Kompas.com - 05/10/2022, 07:15 WIB
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Tembakan gas air mata yang dilepaskan aparat keamanan ke arah tribune di Stadion Kanjuruhan, Malang, disebut para saksi mata menjadi biang kerok yang menyebabkan kepanikan dan 125 orang meninggal serta lebih dari 300 lainnya luka-luka.

Stadion Kanjuruhan memiliki 14 tribune (pintu masuk) kelas ekonomi dan satu tribune VIP.

Lautan awan putih akibat gas air mata disebut menutupi wilayah bagian tribune 10-14 di sisi selatan stadion yang dipenuhi dengan orang tua, balita, anak-anak, dan kelompok remaja.

Wartawan BBC News Indonesia, Raja Eben Lumbanrau, mewawancarai sejumlah saksi yang menceritakan menit-menit mematikan pada Sabtu (1/10/2022) itu dari beragam posisi para penonton.

Baca juga: Tragedi Stadion Kanjuruhan, Kisah Pilu Kuburan Massal di Pintu 13 dan 14

Mereka adalah Andika Bimantara dan Muhamad Dipo Maulana yang berada di tribune VIP.

Lalu, Fahryanto Bagustuza di tribune 7-8. Risma Eko Widianto berada di tribune 12 dan Chandra Dirawan di tribune 14.

Sebelum pertandingan dimulai

Lautan awan putih akibat gas air mata disebut menutupi wilayah bagian tribun 10-14 di sisi selatan stadion yang dipenuhi dengan orang tua, balita, anak-anak, dan kelompok remaja.dokumen BBC Indonesia Lautan awan putih akibat gas air mata disebut menutupi wilayah bagian tribun 10-14 di sisi selatan stadion yang dipenuhi dengan orang tua, balita, anak-anak, dan kelompok remaja.
Fahryanto (21) dan Dipo Maulana (21) meluncur menggunakan sepeda motor bersama temannya dari Kota Malang menuju Stadion Kanjuruhan, dari pukul 16.00 dan tiba sekitar pukul 18.00 WIB.

Mereka menghabiskan waktu hingga dua jam dari yang biasanya cukup ditempuh sekitar 40 menit karena jalan yang padat oleh para pendukung tim Arema Malang, atau dikenal Aremania.

Sementara Risma Eko (18) tiba lebih awa,l sekitar pukul setengah lima sore. Dia dan teman-teman yang lain melakukan latihan koreografi untuk ditampilkan saat laga berlangsung.

Baca juga: 33 Anak Meninggal Saat Tragedi Kanjuruhan, Ada yang Usia 4 Tahun

Dua yang lain, Andika Bimantara (25) dan Chandra Dirawan (19) tiba antara pukul 18.00-19.00 WIB.

Senada, mereka semua menceritakan, situasi saat itu 'dibanjiri' dengan pendukung lautan biru, warna kebanggaan tim Arema Malang.

Tidak ada pendukung tim lawan, Persebaya yang diizinkan menonton karena alasan keamanan.

Prit… pertandingan dimulai, 'situasi masih aman'

Tembakan gas air mata yang dilepaskan aparat keamanan ke arah tribun di Stadion Kanjuruhan, Malang, disebut para saksi mata menjadi biang kerok yang menyebabkan kepanikan dan 125 orang meninggal serta lebih 300 lainnya luka-luka.dokumen BBC Indonesia Tembakan gas air mata yang dilepaskan aparat keamanan ke arah tribun di Stadion Kanjuruhan, Malang, disebut para saksi mata menjadi biang kerok yang menyebabkan kepanikan dan 125 orang meninggal serta lebih 300 lainnya luka-luka.
Tepat pukul 20:00 WIB, pertandingan Arema Malang lawan Persebaya di mulai.

Andika dan Dipo menyaksikan dari tribune VIP.

Sementara Fahryanto seorang diri di tribune 7-8, Eko di tribune 12 dan Chandra di tribune 14.

Mereka mengatakan, laga pertama berlangsung panas. Masing-masing tim saling menjebol gawang lawan dan tercipta skor dua sama.

Namun, panasnya laga tidak menimbulkan aksi kekerasan di kursi penonton, yang terdengar adalah kata-kata "kasar" dan kekecewaan yang terucap.

Baca juga: Persiapan Kunjungan Presiden Jokowi, Kadispora Bersihkan Kanjuruhan tapi Lokasi Kejadian dan Barang Bukti Tak Disentuh

 

 

Istirahat babak pertama, 'keributan di tribune 13'

Ketika turun minum, kata Chandra, di tribune 13 - di sebelah tempat dia menonton - beberapa penonton berkelahi dan diamankan aparat keamanan.

Fahryanto juga melihat insiden di tribune 13 itu. Dari tribune 7-8, dia melihat beberapa orang mengejar yang lain.

Selebihnya, menurut mereka tidak ada insiden besar, hanya nyanyian yel-yel yang bersaut-sautan.

Babak kedua dimulai, 'situasi mulai memanas'

Ketika turun minum, kata Chandra, di tribun 13 - di sebelah tempat dia menonton - beberapa penonton berkelahi dan diamankan aparat keamanan.dokumen BBC Indonesia Ketika turun minum, kata Chandra, di tribun 13 - di sebelah tempat dia menonton - beberapa penonton berkelahi dan diamankan aparat keamanan.
Babak kedua pun dimulai. Kedua tim bergantian saling menyerang. Namun pada menit 51, Persebaya mencetak gol.

Dalam situasi tertinggal, Eko yang nonton dari tribune 12 menceritakan, para penonton terlihat memanas.

Terdengar ucapan-ucapan kasar yang ditujukan kepada baik pemain Arema maupun Persebaya.

Situasi yang sama juga digambarkan oleh narasumber yang lain, hingga akhirnya memasuki 10 menit akhir pertandingan.

Menurut pengamatan Chandra, beberapa penonton mulai melemparkan plastik berisi air ke lapangan. Alasannya karena beberapa pemain Persebaya, menurutnya, terlihat mengulur-ulur waktu.

Baca juga: Sederet Aksi Solidaritas dan Doa Bagi Korban Tregedi Kanjuruhan Malang

Dari tribune Fahryanto, terlihat beberapa penonton juga mulai melempari nasi bungkus dan kantong plastik air.

Arema pun semakin menyerang, namun selama 90 menit plus tujuh menit waktu tambahan, tidak ada gol yang disarangkan.

Pertandingan pun diakhiri dengan kemenangan Persebaya 3-2.

Setelah 10 menit usai pertandingan,'penonton dipukul polisi'

Penonton menghampiri pemain Arema, terlihat menunjuk ke pemain, seperti meluapkan kekecewaanya. Lalu ia dirangkul pemain itu. Tapi polisi datang, menghalau penonton, dan melakukan tindakan represif, ditarik bajunya, dipukul hingga jatuh, kata Fahryanto.dokumen BBC Indonesia Penonton menghampiri pemain Arema, terlihat menunjuk ke pemain, seperti meluapkan kekecewaanya. Lalu ia dirangkul pemain itu. Tapi polisi datang, menghalau penonton, dan melakukan tindakan represif, ditarik bajunya, dipukul hingga jatuh, kata Fahryanto.
Usai pluit panjang, tanda akhir pertandingan dibunyikan, polisi segera mengawal pemain Persebaya untuk masuk ke ruang ganti.

Sementara di lapangan, terlihat pemain Arema tertunduk lesu. Lalu mereka, mendatangi tribune penonton untuk menyampaikan permintaan maaf.

Kejadian itu berlangsung sekitar 10-15 menit. Belum ada satu pun penonton yang turun ke lapangan.

Situasi tersebut disebut cukup hening karena penonton masih belum menerima kekalahan.

Lalu, seorang pemain Arema menuju depan tribune 7-8, menurut kesaksian Fahryanto. Terlihat satu orang penonton, yang diikuti tiga di belakangnya, turun ke lapangan dari tribune 9 dan 10.

Baca juga: Kisah Aremanita yang Tewas dalam Tragedi Kanjuruhan, Saat Jenazah Dimandikan Keluar Air dari Mata dan Hidung

"Penonton menghampiri pemain Arema, terlihat menunjuk ke pemain, seperti meluapkan kekecewaanya. Lalu ia dirangkul pemain itu.Tapi polisi datang, menghalau penonton, dan melakukan tindakan represif, ditarik bajunya, dipukul hingga jatuh," kata Fahryanto.

Tiga teman di belakangnya mencoba menolong, namun kembali mendapatkan hantaman keras dari polisi.

"Satu tergeletak, tiga di belakangnya dipukul polisi dan melawan," kata Fahryanto.

Andika dari tribune VIP juga melihat kejadian tersebut.

Menurutnya, satu atau dua orang penonton mendatangi pemain Arema, tetapi dipukul mundur oleh aparat keamanan.

Baca juga: Polri Klaim Tak ada Penangkapan Pengunggah Video Tragedi Kanjuruhan

"Mereka dipukul tongkat sampai jatuh tergeletak, namun bisa bangkit lalu kabur," kata Andika.

Melihat tindakan pemukulan polisi itu, ratusan penonton dari segala penjuru tribune, disebut melompat pagar pembatas tribune dan turun ke lapangan yang berjarak setinggi sekitar enam meter.

Fahryanto melihat, kumpulan penonton yang turun pertama kali berasal dari tribune 12. Lalu serentak diikuti oleh ratusan dari tribune lain.

"Di lapangan mereka bentangin poster, bentrok dengan polisi, menolong rekan penonton lain yang terluka," kata Fahryanto.

Sementara Dipo melihat, ratusan penonton yang turun pertama kali berasal dari tribune 7-8 yang berbarengan dari tribune 10 hingga 12.

Dari tribune 12 sendiri, Eko mengatakan hal yang sama.

Menurutnya, terdapat seorang penonton yang memberikan aba-aba mengajak para penonton untuk turun. Serentak, Eko melihat, banyak penonton bergegas ke lapangan.

Dari sisi VIP, Andika mengatakan, setelah ratusan penonton turun ke lapangan. Polisi bergerak mundur perlahan ke depan wilayah VIP.

Mereka pun mengeluarkan anjing pelacak untuk memukul mundur para penonton.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Proyek Pembangunan Gorong-gorong dan Jembatan Bikin Macet, Pemkot Malang Minta Maaf

Proyek Pembangunan Gorong-gorong dan Jembatan Bikin Macet, Pemkot Malang Minta Maaf

Surabaya
Erupsi Gunung Semeru, Kolom Asap Membumbung 500 Meter, Letusan Terdeteksi 29 Kali

Erupsi Gunung Semeru, Kolom Asap Membumbung 500 Meter, Letusan Terdeteksi 29 Kali

Surabaya
2 Polisi di Jember Diduga Konsumsi Narkoba, Kasat: Sudah Diproses

2 Polisi di Jember Diduga Konsumsi Narkoba, Kasat: Sudah Diproses

Surabaya
Honda Jazz Tabrak Pohon di Surabaya hingga Tewaskan 1 Pelajar SMA, Sopir Diduga Mabuk

Honda Jazz Tabrak Pohon di Surabaya hingga Tewaskan 1 Pelajar SMA, Sopir Diduga Mabuk

Surabaya
Hamili Anak Tiri Berusia 14 Tahun, Pria di Banyuwangi Ditahan

Hamili Anak Tiri Berusia 14 Tahun, Pria di Banyuwangi Ditahan

Surabaya
Ada 6.145 Kasus HIV/AIDS Baru di Jatim, Akumulasi Capai 84.959 Kasus

Ada 6.145 Kasus HIV/AIDS Baru di Jatim, Akumulasi Capai 84.959 Kasus

Surabaya
Ketua KPK Soroti Angka Pengangguran Kota Madiun, Lebih Tinggi Dibandingkan Jatim

Ketua KPK Soroti Angka Pengangguran Kota Madiun, Lebih Tinggi Dibandingkan Jatim

Surabaya
Viral, Video Gengster di Kediri Bawa Gir dan Minta Maaf, Ini Penjelasan Polisi

Viral, Video Gengster di Kediri Bawa Gir dan Minta Maaf, Ini Penjelasan Polisi

Surabaya
Ini Kata Ganjar soal Kriteria Pemimpin Berambut Putih yang Disebut Jokowi

Ini Kata Ganjar soal Kriteria Pemimpin Berambut Putih yang Disebut Jokowi

Surabaya
Seorang Pedagang di Pasar Kesamben Blitar Ditemukan Tewas Gantung Diri

Seorang Pedagang di Pasar Kesamben Blitar Ditemukan Tewas Gantung Diri

Surabaya
Ayah Korban Tragedi Kanjuruhan Minta Otopsi Ulang dengan Melibatkan Dokter Independen

Ayah Korban Tragedi Kanjuruhan Minta Otopsi Ulang dengan Melibatkan Dokter Independen

Surabaya
5 Siswa SD di Blitar Diduga Keracunan Makanan Kemasan, Polisi Tunggu Hasil Uji Lab

5 Siswa SD di Blitar Diduga Keracunan Makanan Kemasan, Polisi Tunggu Hasil Uji Lab

Surabaya
Kronologi Remaja Tewas Usai Latihan Silat di Lamongan, Sempat Mengeluh Sakit di Perut dan Sesak Napas

Kronologi Remaja Tewas Usai Latihan Silat di Lamongan, Sempat Mengeluh Sakit di Perut dan Sesak Napas

Surabaya
Bayi Perempuan Ditemukan Menangis di Pekarangan Rumah Warga di Malang, Polisi Lakukan Penyelidikan

Bayi Perempuan Ditemukan Menangis di Pekarangan Rumah Warga di Malang, Polisi Lakukan Penyelidikan

Surabaya
Korupsi Proyek PJU Tenaga Surya, Kejari Lamongan Tetapkan 4 Orang Tersangka

Korupsi Proyek PJU Tenaga Surya, Kejari Lamongan Tetapkan 4 Orang Tersangka

Surabaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.