Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Tari Rampogan, Tari Gladiator dari Ngawi

Kompas.com - 09/04/2022, 17:04 WIB
Sukoco,
Ardi Priyatno Utomo

Tim Redaksi

MAGETAN , KOMPAS.com – Gladiator, atau mengadu manusia dengan harimau ternyata pernah menjadi kegiatan di Ngawi, Jawa Timur pada abad 18.

Hal tersebut tergambar pada tari rampogan yang dikemas oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Pamong Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi, Sulistyono mengatakan, tari rampogan pada awalnya dibuat untuk mengikuti festival tari di Provinsi Jawa Timur pada 2014.

Baca juga: Tari Reog Ponorogo: Sejarah, Makna, Iringan, dan Properti

“Kita masuk 10 besar pada waktu itu. Tari tersebut kita buat gerak dari sejarah tradisi rampogan,” ujarnya di temui di ruang kerjanya, Sabtu (9/4/2022).

Tari rampogan biasanya akan dipentaskan pada saat prosesi jamasan pusaka dalam rangka peringatan hari jadi Kabupaten Ngawi.

Tari rampogan dibawakan oleh 10 penari yang menceritakan olah keprajuritan dalam mengolah senjata tombak dalam melawan harimau seperti tradisi rampogan.

“Ceritanya kita ambil dari buku sejarah Ngawi kita buat geraknya gerak keprajuritan,” imbuhnya.

Buku Ngawi Tempo Doeloe

Sulistyono menambahkan, kegiatan rampogan di Kabupaten Ngawi terekam dalam buku Ngawi Tempo Doeloe yang ditulis oleh Dukut Imam Widodo.

Cerita rampogan di buku Ngawi Tempo Doeloe ditulis berdasarkan tulisan sebuah buku yang tidak diketahui siapa penulisnya karena sampul buku tersebut telah hilang.

Baca juga: Mengenal Tari Klasik Keraton 

Buku tulisan tangan tersebut diperkirakan ditulis pada awal 1900-an. “Cerita itu kita dengar dari orangtua kita dulu. Tradisi tersebut lahir karena di sini dulu konon masih banyak harimau,” katanya.

Kabupaten Ngawi memiliki hutan yang cukup luas yang bernama Alas Ketonggo. Selain angker, Alas Ketonggo juga dipercayai sebagai habitat dari harimau jawa.

Selain di Alas Ketonggo harimau Jawa juga diceritakan banyak terdapa di Hutan Lodaya Blitar Selatan, Hutan Gadungan Pare Kediri, dan Hutan Keduwang Wonogiri.

“Dulu katanya warga ini sering melihat harimau karena saking banyaknya. Dulu kan hutan masih lebat,” ucap Sulityono.

Dahulu harimau dianggap sebagai hama karena sering memakan ternak warga. Maka pada waktu itu pejabat di Kadipaten Ngawi mengeluarkan perintah untuk menangkap harimau.

Baca juga: Tema Literal dan Nonliteral dalam Seni Tari

Sulistyono memperlihatkan buku Ngawi tempo doeloe yang memuat tradisi mengadu harimau dengan manusia yang dinamakan rampogan.KOMPAS.COM/SUKOCO Sulistyono memperlihatkan buku Ngawi tempo doeloe yang memuat tradisi mengadu harimau dengan manusia yang dinamakan rampogan.

Bahkan bagi warga yang berhasil menangkap harimau akan mendapatkan hadiah 10 hingga 50 gulden sesuai dengan besaran harimau yang ditangkap.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Pria Peneror Teman Perempuannya Selama 10 Tahun Ditangkap Polisi

Pria Peneror Teman Perempuannya Selama 10 Tahun Ditangkap Polisi

Surabaya
Kisah Mbah Harjo Berhaji di Usia 109 Tahun, Hatinya Bergetar Melihat Kabah

Kisah Mbah Harjo Berhaji di Usia 109 Tahun, Hatinya Bergetar Melihat Kabah

Surabaya
PPP Beri Rekomendasi Maju Pilkada Jatim 2024 untuk Khofifah-Emil

PPP Beri Rekomendasi Maju Pilkada Jatim 2024 untuk Khofifah-Emil

Surabaya
Prakiraan Cuaca Tulungagung Hari Ini Minggu 19 Mei 2024, dan Besok : Tengah Malam ini Berawan

Prakiraan Cuaca Tulungagung Hari Ini Minggu 19 Mei 2024, dan Besok : Tengah Malam ini Berawan

Surabaya
Prakiraan Cuaca Malang Hari Ini Minggu 19 Mei 2024, dan Besok : Tengah Malam ini Cerah Berawan

Prakiraan Cuaca Malang Hari Ini Minggu 19 Mei 2024, dan Besok : Tengah Malam ini Cerah Berawan

Surabaya
Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini Minggu 19 Mei 2024, dan Besok : Tengah Malam ini Cerah

Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini Minggu 19 Mei 2024, dan Besok : Tengah Malam ini Cerah

Surabaya
Sejarah Kerajaan Singasari: Silsilah, Masa Kejayaan, dan Keruntuhan

Sejarah Kerajaan Singasari: Silsilah, Masa Kejayaan, dan Keruntuhan

Surabaya
Gunung Semeru Luncurkan Awan Panas Sejauh 3 Kilometer

Gunung Semeru Luncurkan Awan Panas Sejauh 3 Kilometer

Surabaya
Bayi Laki-laki Ditemukan di Teras Rumah Warga, Banyak Rumput Menempel di Tubuhnya

Bayi Laki-laki Ditemukan di Teras Rumah Warga, Banyak Rumput Menempel di Tubuhnya

Surabaya
Kisah Nenek Penjual Bunga Tabur di Lumajang Menabung Belasan Tahun demi Naik Haji

Kisah Nenek Penjual Bunga Tabur di Lumajang Menabung Belasan Tahun demi Naik Haji

Surabaya
Gunung Semeru Meletus 7 Kali Sabtu Pagi

Gunung Semeru Meletus 7 Kali Sabtu Pagi

Surabaya
Pria di Probolinggo Perkosa Sepupu Istri, Dibawa ke Hotel 3 Hari

Pria di Probolinggo Perkosa Sepupu Istri, Dibawa ke Hotel 3 Hari

Surabaya
Cerita Perempuan di Surabaya 10 Tahun Diteror Foto Mesum oleh Teman SMP

Cerita Perempuan di Surabaya 10 Tahun Diteror Foto Mesum oleh Teman SMP

Surabaya
Prakiraan Cuaca Tulungagung Hari Ini Sabtu 18 Mei 2024, dan Besok : Siang ini Cerah Berawan

Prakiraan Cuaca Tulungagung Hari Ini Sabtu 18 Mei 2024, dan Besok : Siang ini Cerah Berawan

Surabaya
Prakiraan Cuaca Malang Hari Ini Sabtu 18 Mei 2024, dan Besok : Tengah Malam ini Cerah

Prakiraan Cuaca Malang Hari Ini Sabtu 18 Mei 2024, dan Besok : Tengah Malam ini Cerah

Surabaya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com