Salin Artikel

Benda Cagar Budaya di Situs Watu Gilang Kediri Dirusak, Diduga Dipukul Benda Tumpul hingga Pecah

Salah satu aset sejarah dan budaya berupa benda purbakala di desa mereka dirusak orang tidak bertanggung jawab.

Perusakan benda purbakala berupa ambang pintu yang berukuran panjang 178 centimeter (cm), panjang bawah 120 cm, lebar 54 cm, serta tinggi 29 cm, itu diketahui pada Senin (6/2/2022)

Ambang pintu berbahan batu andesit itu berangka tahun 1055 Saka, yakni dari masa Kerajaan Kediri masa pemerintahan Raja Bameswara.

Perusakan itu diduga dilakukan dengan benda tumpul. Akibatnya, benda purbakala itu pecah menjadi tiga bagian dan mengelupas pada bagian permukaan.

Bahkan pelaku diduga berniat menghilangkan benda purbakala dengan membuang pecahannya, tetapi berhasil ditemukan warga.

Kepala Desa Jambean Hari Amin mengatakan, benda purbakala itu sudah ada di desa sebagai peninggalan nenek moyangnya dan hingga kini menjadi ikon desa.

"Istilahnya barang berharga peninggalan sejarah dan budaya kok ada yang merusak, ya jelas resah," ujar Hari pada Kompas.com, Minggu (13/2/2022).

Menurutnya, pemerintah desa telah berinisiatif membeli lahan lokasi benda purbakala itu seja 2017. Hal itu dilakukan untuk mempermudah perawatan benda tersebut.

Lokasi yang awalnya berada di tengah sawah itu mulai dibangun dan dibuatkan akses jalan yang cukup untuk kendaraan roda empat.

Dan selama ini, lokasi benda yang dikenal dengan nama Situs Watu Gilang itu telah banyak menyedot kunjungan dari masyarakat dari berbagai wilayah.

Pada lokasi situs itu, selain ada batu peninggalan Raja Bameswara juga terdapat satu batu ambang pintu lagi. Batu ini berangka tahun 1148 Saka atau masa Ken Angrok, Raja Tumapel.

Hanya saja pengamanannya memang masih kurang. Selain belum ada juru kunci, tembok pagar pengaman yang ada belum memadai sehingga lokasinya masih relatif terbuka.

Perusakan Kedua

Kades Hari mengungkapkan, perusakan yang terjadi pada situs itu bukan kasus pertama. Sekitar dua tahun lalu, benda purbakala di situs itu juga dirusak tangan jahil.

"Waktu itu posisi batunya dibalik," Hari menambahkan.

Meski demikian, Hari enggan berspekulasi perihal pelaku maupun motif dari perusakan itu. Dia menyerahkannya pada pihak berwajib.


Bergulir di Kepolisian

Pascaperusakan itu, para pihak yang terdiri dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri dan pemerhati sejarah dan budaya membawa kasus itu ke ranah hukum.

Mereka secara resmi melaporkannya ke Satuan Reserse Kriminal Polres Kediri, Kamis (10/2/2022).

Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Disbudpar Yuli Marwantoko mengatakan, pelaporan itu sebagai bentuk perhatian dan perlindungan pemerintah terhadap sejarah dan budaya.

"Selain itu agar menimbulkan efek jera bagi para pelakunya dan harapannya tidak ada kejadian lagi serupa," ujar Yuli pada Kompas.com.

Benda-benda yang ada pada Situs Watu Gilang Desa Jambean tersebut, selama ini sudah terdaftar dengan nomor 88/KDR/1996.

Adanya kasus ini, menurut Yuli, sekaligus menjadi alarm bagi desa-desa lain yang mempunyai benda peninggalan sejarah.

Mengingat hampir sebagian besar desa di wilayah Kediri mempunyai benda yang diduga cagar budaya.

Ia berharap desa-desa lainnya itu semakin memberi perhatian dan berorientasi pada perlindungan cagar budaya.

"Desa-desa yang punya cagar budaya bergotong royong menjaga situs agar bisa dinikmati sebagai kekayaan budaya dan sejarah anak cucu kita nanti," ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kediri Ajun Komisaris Rizkika Putra Atmada mengatakan, pihaknya mulai melakukan penyelidikan pekan ini.

"Minggu ini kami tindak lanjuti," ujar Rizkika, Minggu (13/2/2022).

Rizkika menegaskan, pihaknya akan mengerahkan segenap kekuatan yang ada untuk mengungkapnya secara maksimal. 

https://surabaya.kompas.com/read/2022/02/14/134133578/benda-cagar-budaya-di-situs-watu-gilang-kediri-dirusak-diduga-dipukul-benda

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke