Salin Artikel

Belasan Tahun Hidup dengan Energi Alternatif Gas Metana TPA Sliwung Situbondo

SITUBONDO, KOMPAS.com - Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sliwung terletak di Desa Sliwung, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo.

Meski lokasinya cukup jauh dengan pusat administrasi pemerintah, tetapi di sinilah muara pembuangan sampah dari kota berakhir.

Banyak truk sampah bolak-balik setiap waktunya. Hampir puluhan ton sampah diangkut dan diletakkan bergunung-gunung di wilayah seluas 5 hektar tersebut dan itu berlangsung setiap hari.

Namun siapa sangka, di balik bau menyengat sampah yang menumpuk, ada berkah energi gratis yang disalurkan kepada masyarakat sekitarnya. Energi itu bernama gas metana.

Api biru merona, memikat setiap orang yang pertama kali melihat ingin membuka ponsel untuk mengabadikan momen tersebut. Hampir sama dengan blue fire Gunung Ijen. Bedanya api di sana dari gas belerang, sedangkan api ini berasal dari gunung sampah yang manfaatnya luar biasa.

Seperti yang dirasakan Maryono (50), warga setempat. Rumah pria yang terkadang bekerja membantu Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sliwung ini terdistribusi gas metana untuk kebutuhan sehari-hari. 

Api yang dihasilkan juga berkualitas bagus. Tidak ada bau akibat proses sampah dan terasa normal. Ketika memasak pun, pasti yang sangat terasa bau dari terasi sambal olahan bukan bau sampah.

"Sudah lama ada gas ini (metana), bahkan sebelum ada gas elpiji 3 kilogram program pemerintah itu," ucapnya, Sabtu (4/3/2023).

Maryono mengungkapkan, kegiatan seperti membuat kopi, menanak nasi, dan menggoreng menggunakan api dari gas metana, jarang menggunakan elpiji.

"Kalau pagi sampai siang kami (keluarga) pakai api metana, tetapi ketika sore pakai elpiji, karena pekerja TPA sudah pada pulang, kan ini pakai blower disalurkan ke sini," ucapnya dalam bahasa Madura kepada Kompas.com.

Tidak Boleh Bocor

Koordinator Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sliwung, Sediyanto menyatakan, gas metana yang ada murni dari pengelolaan di penampungan sampah. Puluhan ton sampah datang dari seluruh wilayah Kabupaten Situbondo.

Pengelolaan sampah menjadi gas metana tidak boleh orang sembarangan. Harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang pasti.

Jika tidak, gas tidak bisa dikonversi menjadi energi atau api. Lebih bahaya lagi ketika ada penumpukan energi dan bisa meledak.

"Kalau bocor di pipa itu bisa tidak hidup apinya," ucapnya.

Sehingga pihak pengelola membuat modifikasi sebaik mungkin untuk mengantisipasi kebocoran dan tidak boleh ada penyumbatan gas. Salah satu cara yang dilakukan memberi pembuangan setiap siku-siku paralon.

Paralon yang digunakan harus yang berkualitas bagus sehingga tidak mudah bocor. Penggunaanya harus dengan perhitungan yang baik. Setiap siku-siku diberikan pembuangan dengan kran.

Setiap siku-siku paralon diberi pembuangan yang bertujuan untuk membuang air lindi berlebih. Supaya yang sampai hanya gas metana ke kompornya.

Menurutnya, ketika blower sedang dihidupkan maka energi gas metana sedang disalurkan. Angin yang dihasikan mendistribusikan gas ke kompor.

Namun ketika blower tidak dihidupkan, maka gas menumpuk dan berbahaya. Sehingga setiap hari gas harus digunakan dalam keadaan menyala.

"Kondisi kompor hidup terus ini sampai jam 2 siang, kalau sore dimatikan karena pekerja pulang," kata Sediyanto.

Sejauh ini TPA Sliwung masih memiliki satu blower untuk mendistribusikan gas ke semua pipa yang disalurkan ke rumah warga. Ciri-ciri gas tersalurkan dengan baik memiliki suara dan berbau gas.

"Gas tersalurkan dengan baik ketika ada suara dan bau, setelah itu baru bisa dinyalakan apinya," tuturnya.

Sediyanto yang cukup berpengalaman dalam mengelola sampah memiliki kriteria tertentu dalam memilah sampah. Sehingga distribusi air lindi sangat berpengaruh.

Menurutnya, kendala ada dua yakni sampah plastik dan angin kencang. Jika terlalu banyak plastik maka air lindi terhalang ke bawah dan menghambat melakukan penguapan. Sedangkan angin kencang membuat penutup terpal terbuka dan mengganggu penguapan.

"Saya berharap sampah plastik bisa berkurang karena cukup menyulitkan," tuturnya.

Dalam sehari TPA Sliwung menampung 35 ton sampah. Sehingga perlu pengelolaan sampah yang baik dan ramah lingkungan. Salah satunya dengan mengubah sampah menjadi energi alternatif untuk kebutuhan sehari-hari.

Menurutnya, banyak yang pesimis dengan kondisi sampah yang dihasilkan limbah rumah tangga yang banyak. Namun, dia meminta masyarakat tetap optimis dengan memulai perubahan dalam diri sendiri.

"Minimal membuang sampah pada tempatnya dan dilakukan setiap hari. Kurangi sampah plastik juga karena yang bagus untuk pengelolaan untuk gas metana sampah organik," kata Sediyanto.

Musim Kemarau dan Penghujan

Pengelolaan gas metana tidak bisa berlangsung tanpa mengelola air lindi dengan baik. Perlakuan berbeda terjadi ketika musim kemarau dan penghujan. Namun hal tersebut sudah diantisipasi dengan baik.

"Kalau musim kemarau kami melakukan penyiraman air lindi ke sampah yang ditutupi terpal itu, terkadang kami semprot langsung," beber dia.

Hal tersebut demi terjadinya sirkulasi air baru yang jatuh ke bawah. Sehingga ada penguapan gas metana setelah itu disalurkan ke rumah warga. Penyiraman dilakukan setiap hari ketika musim kemarau datang.

Namun ketika musim penghujan, pengelola tidak perlu menyiram karena air hujan menjadikan sirkulasi air lindi menjadi lancar. Bahkan gas metana menjadi berkualitas bagus saat musim penghujan.

"Lebih bagus lagi kalau hujan," ungkap Sediyanto.

Penyaluran energi gas metana sejauh ini masih digunakan menjadi api. Namun sebenarnya juga bisa dijadikan energi listrik. Dengan kondisi gas metana yang sedang dihasilkan bisa menyumbang listrik sekitar 2.000 watt per hari.

"Sebenarnya bisa dijadikan energi listrik, namun masih menunggu waktu, ada langkah dan cara yang perlu dipelajari serta disetujui bersama," katanya.

13 tahun kelola gas metana

Gas metana sudah dikelola dengan baik menjadi api untuk memasak sejak 2010. Terhitung sudah 13 tahun lalu TPA Sliwung berinovasi dan membantu masyarakat sekitar. Sehingga tidak terlalu tergantung dengan gas alam dan minyak fosil.

"Iya pemanfaatanya sudah lama," ucap Kabid Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Situbondo, Hendra.

Secara total ada 11 kepala keluarga di sekitar TPA Sliwung Situbondo yang disalurkan energi gas metan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun pengirimannya hanya sampai pukul 14.00 WIB.

"Kalau dari kami supaya masyatakat bisa manfaatkan gas metana semaksimal mungkin," kata Hendra.

Gas metana harus didistribusikan setiap hari supaya tidak mengalami penumpukan energi. Hal tersebut sangat diantisipasi dengan pendistribusian ke rumah warga.

Di sisi lain, ada kompor khusus yang juga setiap hari dinyalakan supaya ada pembakaran.

"Tiap hari dinyalakan dan harus begitu," pungkas Hendra. 

https://surabaya.kompas.com/read/2023/03/05/124858378/belasan-tahun-hidup-dengan-energi-alternatif-gas-metana-tpa-sliwung

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke